1
Aku
menatap keluar jendelaku yang basah oleh hujan deras di luar meski begitu aku
masih bisa mendengarkan suara protes Ayah,Ibu, dan Kakakku yang berada di luar
kamarku. Apa yang terjadi seminggu yang lalu masih sulit mereka cerna hingga
dua orang yang mengaku sebagai Divisi Diverse untuk orang sepertiku yang
bangkit dari kematian dan menerima kehidupan kedua. Beberapa minggu yang lalu
aku ingat tengah berjalan di jembatan bersama kedua temanku hingga seseorang
muncul dari balik kegelapan dan melemparkan aku ke bawah jempatan setelah
menusukku dengan pisau yang tertancab hingga menembus jantungku.
Dokter
menyatakan aku tidak akan selamat. Aku masih bisa mendengarnya meski saat itu
aku bahkan tak tahu apakah aku sudah mati atau hidup tapi aku ingat suara ibuku
yang menjerit memanggilku dan suara mesin jantung yang berbunyi untuk
menandakan jantungku telah berhenti berdetak dan itu menyeretku kedunia penuh
kabut dan aku menunggu kematian sepenuhku hingga pria itu menarikku kembali ke
dunia ini dan aku hidup lagi tapi tidak benar-benar hidup.
Rasanya
aku hidup di dunia lain dan melihat segalanya di luar jendela seperti aku
tengah melihat hujan saat ini. Jantungku yang sepertinya sudah sobek entah
bagaimana menyatu kembali begitupun luka gegar otak dan tulang-tulangku yang
patah. Dokter menyebutnya sebagai keajaiban tapi aku tahu itu bukan hanya
sekedar keajaiban saat aku bisa membekukan air, membuat tumbuhan yang kusentuh
menjadi bergerak, dan aku juga merasa bisa mendenagr sesuatu yang samar seperti
perlihatan yang tidak jelas. Aku memperoleh lebih dari hidup dan itu membuatku
ketakutan. Hingga dua orang Divisi itu datang dan menjelaskan jika aku termasuk
Diverse.
Orang
yang memperoleh kekuatan setelah mereka bangkit dari kematian lagi. dan
orang-orang sepertiku harus dibawa ke sebuah sekolah khusus yang dirahasiakan
di belahan dunia ini untuk menjalani seputar pengendalian bahkan untuk
menghilangkan kekuatan ini jika memang mau dan aku mau mengambil yang kedua
karena aku lebih suka kehidupan pertamaku. Menjadi orang normal tanpa
orang-orang menatapku penuh perhitungan seperti sepupu-sepupuku dan paman-paman
juga bibi-bibiku saat itu pamanku Gail jatuh dari tangga dan terluka berat lalu
entah bagaimana aku bisa menyembuhkannya sejak saat itu dua orang divisi itu
melarang siapapun untuk memberitahukan hal ini lagi dan memaksaku untuk ikut
hingga saat ini Ibu, Ayah,dan kakakku masih mendebat mereka.
Pintuku
terbuka. pria tinggi jangkung dengan kulit khas california muncul, aku ingat
namanya adalah Lufian dan pria berkacamata culun dibelakangnya adalah Harry.
Mereka berdualah divisi itu.
“Kau
sudah siap Miss.Airis?” Tanya Lufian yang sepertinya sudah menyelesaikan
perdebatan dengan ibuku yang menuntut untuk ikut tapi tidak diperbolehkan.
“Miss.Livy,”
Koreksiku. “Aku lebih suka dipanggil nama depanku dibanding nama belakangku.”
“Ya,
aku mengerti.” Kata Lufian lagi melirik pada tas ransel besarku dan koper
besarku.
“Hanya
ini yang akan kau bawa?” Tanya Lufian mengambil tas ransel itu.
Aku
mengamati tas ransel dan koperku. “Kau berharap aku membawa kulkas, lemari, dan
kasur juga?” Aku tersenyum miring. “Sekarang kedengarannya aku akan pindahan
jika kau menatap remeh barang yang akan kubawa.”
“Tenanglah
ini hanya akan memakan waktu dua tahun.” Kata Lufian tenang. Dia mengangguk
pada Harry untuk mengangkat tas dan koperku.
“Bagiku,”
Kataku cukup tegas. “Sebulan sudah termasuk lama maksimalku berpergian dari
luar rumah.” Aku melewati Lufian dan Harry.
Memeluk
ibuku yang menahan tangis.”Apapun yang terjadi teruslah menelepon,” Nasehat
ibuku karena memang hanya itu cara berhubungan dengannya saat Lufian
menjelaskan dengan detail jika tidak akan ada alat komunikasi lain selain
ponsel buntut yang tidak bisa digunakan untuk e-mail, Video chat, juga tidak
diijinkan untuk mendapatkan kunjungan dari luar. Sungguh tipe asrama sekolah
yang akan kubenci. “Kau akan menjaga dirimu dengan baikkan?”
Tatapan
cemas ibuku sungguh membuatku ingin mengisak menangis lagi padahal aku berjanji
pada dirku sendiri bahwa ini pasti dapat kulalui. “Aku akan baik mom,” Kataku
lembut tapi suaraku bergetar. “Mom jaga diri ya?”
Ibuku
mengangguk. Aku melepaskan pelukan ibu dan berpindah pada kakakku, Trivia.
“Jaga Mom dan Dad.” Kataku kemudian pada Ayahku. “Maaf aku tak akan bisa
membuatkan kopi untuk Dad lagi.” Ayahku hanya tersenyum tipis dan mengusapkan
ciuman di pelipisku.
“Baik,”
Kata Lufian. “Kita berangkat.”
Aku
menaiki pesawat sekitar sepuluh jam dan kemudian mendarat dengan mobil yang
sudah menunggu kami. Mobil itu termasuk mobil kuno hitam pada tahun Victoria
yang cukup besar tapi hanya memuat empat penumpang. Tak ada seorangpun yang
mengatakan jika jalan ke Diverse School melewati tebing, jalan panjang gelap
tanpa lampu, pergunungan dan jalan melewati hutan yang berbelok-belok. Hanya
ada pemandangan pohon tinggi yang besar, cukup menyeramkan dan kurasa hutan
disini cukup luas hingga ke tebing jurang yang terletak cukup jauh di barat.
Aku melihat dari jauh ada puing-puing meski aku tidak yakin jika disana ada
bangunan yang dihuni kecuali jika orang itu senantiasa siaga jika serigala
masuk untuk menumpang tidur atau menggosok gigi dengan daging mereka.
Mobil
hitam ini mulai mengurangi kecepatannya dan aku tahu jika didepan menjulang
tinggi dan ditutupi tembok tinggi kayu seperti dalam cerita kastil istana yang
jika akan masuk harus diperiksa. Garbang kayu itu terbuka dengan suara kayu
yang didorong cukup berat. Ada orang yang mendorongnya dan aku mau tidak mau
membuka mulut lebar menyadari jika itu pasti bukan manusia biasa karena dia
besar seperti manusia raksasa dengan kulit merah. aku membayangkan dia seperti
Red dalam film tapi dia jauh lebih besar dari Red dan dia memiliki rambut
coklat keriting.
“Barusan
itu bukan manusiakan?” Tanyaku dengan yakin pada Lufian disebelahku.
Lufian
tersenyum. “Sudah pasti bukan karena semuah yang ada di Diverse bukanlah
manusia normal. Namanya Wetherell, seperti artian namanya dia adalah penjaga gerbang. Dia sangat
kuat dan baik.”
“Aku tidak yakin jika dia akan tetap
baik jika tanpa sengaja menginjak orang atau mendorong seseorang hingga
menempel pada dinding.” Dengusku. Aku mengawasi Wetherell dari kaca mobil dan
dia menoleh padaku lalu tersenyum. Senyuman yang memang ramah. Atau mungkin aku
memang perlu peribahasa yang menyatakan seseorang jangan dilihat dari
penampilannya.
Aku turun dari mobil dengan Lufian dan
Harry masih disampingku. Kami masuk kedalam bangunan yang memang terlihat
persis seperti istana kuno sehingga aku merasa salah dengan pakaianku yang
hanya berupa jaket besar hitam dan celana jeans juga sepatu bot. Seharusnya aku
memakai gaun kemudian tersangkut sesuatu atau jika tidak menginjak bodiran
gaunku sendiri kemudian melayang jatuh. Oke, aku tidak begitu suka pakaian yang
menyusahkan.
“Selamat datang di Diverse School
Miss....” Sambut wanita tinggi dengan berwibawa. Rambutnya yang digelung
tertata rapi meski aku tidak yakin akan serapi lagi jika angin topan bertiup
mengamuk gelungan rambut itu.
“Namanya adalah Livy Khesya Airis.”
Kata Lufian memperkenalkanku dengan sopan pada wanita itu. “Miss.Livy, ini
adalah Mrs.Cleva Darrylene. Kepala sekolah di Diverse.”
“Miss.Livy. tentu aku ingat tentang
berita yang kubaca mengenai seorang gadis yang ditikam lalu dijatuhkan dari jembatan
dengan kejam lalu keajaiban mendatanginya,” Mrs.Cleva tersenyum. “Tapi tentunya
itu bukan keajaiban semata ya kan Miss.Livy? itu adalah pertolongan dari
Chiton.”
“Chiton?” Aku belum mendengar yang
satu ini.
Mrs.Cleva menoleh pada Lufian. “Oh,
aku belum menceritakannya. Aku pikir penjelasan detail memang lebih baik jika
kau yang menyampaikan.”
“Itu memang benar,” Kata Mrs.Cleva.
“Baiklah Miss.Livy kau bisa ikut aku dan meninggalkan Lufian juga Harry yang
akan mengatur persiapanmu disini.”
Mrs.Cleva membimbingku menaiki tangga.
Aku mengikutinya sambil menoleh ke sana-sini mengamati lukisan-lukisan yang
yang indah dan sulit dimengerti. “Jadi,” Mulaiku. “Apa itu Chiton?”
“Sebelum Chiton aku akan menceritakan
tentang Malaikat yang berperang dengan Lucifer yang membuat sebuah pintu untuk
memasuki dunia kegelapan dan cahaya. Kau bisa menebak jika itu adalah Neraka
dan Surga, akhirnya Lucifer terkurung dan beberapa malaikat menjaganya dan
sekelompok malaikat yang menjaga ada yang justru membantu Lucifer keluar
sehingga dia di buang ke dunia ini lalu menciptakan makhluk penjaga yang berada
di dunia ini yang disebut Chiton karena mereka dapat beradaptasi langsung
dengan manusia dari Chiton itu, lalu setelahnya Chiton menciptakan manusia baru
dengan memberikannya sebagian kekuatan yang mereka bangkitkan dari kematian.
Dan itulah kenapa Diverse ada, orang-orang yang memiliki bakat dari pemberian
Chiton. Meski begitu sekarang Chiton tetap disembunyikan dalam satu tempat yang
tidak kita ketahui.”
“Mereka memilih orang yang
dibangkitkan asal-asalan atau bagaimana? Aku harap itu bukan lewat undian
semata.” Kataku.
“Mereka mengamati terlebih dahulu
sebelum melakukannya Miss.Livy, dan orang-orang yang mendapatkan perhatian
mereka sungguh beruntung karena menerima satu bakat dari Chiton.”
Aku mengerutkan kening. “Satu bakat?”
Ada lorong saat tangga masih mengarah
ke atas lalu Mrs.Cleva berbelok. Aku hanya mengikutinya. “Benar satu bakat, dan
tidak lebih. Kau pasti sudah melihat Mr. Weth si penjaga. Dia mendapatkan satu
bakat untuk memiliki kekuatan otot besar setelah dia dipukuli oleh warga di
desanya karena tubuhnya seperti raksasa.”
“Kupikir dia menjadi raksasa sejak
diberikan bakat itu.” Cetusku kurang sopan tapi kelihatannya Mrs.Cleva sudah
terbiasa mungkin karena disini masih ada banyak orang-orang yang tidak sopan
saat dia mendidiknya.
Mrs.Cleva tersenyum rapuh. “Kadang
kita memang sudah memiliki keistimewaan sejak lahir hanya saja orang lain
melihat segala sesuatu dari segi keidealisnya saja.”
Seperti orang yang memiliki empat
tangan yang sebenarnya bisa menambah bantuan untuk mengangkat sesuatu tapi
orang justru menyebutnya sebagai kecacatan atau orang yang memiliki lidah
ganda....atau mungkin yang terakhir memang tidak bisa disebut keistimewaan
karena terlalu sulit dibayangkan.
Tapi aku tidak hanya memiliki satu
bakat. Aku bisa membuat tumbuhan bergerak sesuai keinginanku, bisa membekukan,
dan aku tak yakin jika aku pernah melihat bisa memecahkan kaca dari jarak jauh.
“Bagaimana jika ada pemberian bakat lebih dari satu?”
“Itu jarang ada dalam kasusku
memberikan pendidikan di sekolah ini selama tujuh puluh tahun.” Kata Mrs.Cleva.
Dalam hati aku segera bergumam ‘Wow’.
“Sudah berapa lama sekolah ini di dirikan Mrs?”
Mrs.Cleva berhenti untuk berpikir.
“Mungkin sudah sekitar seratus tahunan lebih.”
“Ooh....” Gumamku.
“Apa bakatmu Miss.Livy?” Tanyanya.
Kami mencapai sebuah ruangan yang tertutup pintu kayu jati kokoh. Mrs.Cleva
memutar knopnya.
“Aku....” Aku menjetikkan jari jempol
dan jari telunjukku sebagai kebiasaanku jika akan berbohong. “Menggerakkan...
tapi kadang itu tidak selalu berfungsi.”
“Itu karena kau belum mengasahnya
Miss.Livy. Disini kau akan mulai mengasah dan mengusaiya sehingga kau tidak
perlu lagi takut jika kekuatan itu bisa tak terkendali begitu saja.”
Begitu masuk keruangan Mrs.Cleva aku
segera disuguhi berbagai kayu bergemerapan yang indah dan bersih. Berbagai
perabotan seakan adalah barang yang luar bisa mahal dan hanya ada pada jaman
kerajaan saja. ada kursi seperti singgasana dan meja bertulisan nama Mrs.Cleva
di papan. Mrs,Cleva mengambil buku berwarna hitam dan kotak.
“Ini adalah buku peraturan disini,
peta jika kau tersesat, nama-nama guru, kegiatan yang akan kau ikuti, dan yang
bisa kau gunakan untuk mencoret jika bosan membacanya,” Mrs.Cleva tersenyum
lagi kali ini ada sisi humor pada dirinya yang awalnya kukira kaku. Membuatku
bisa menghitung jika usia Mrs.Cleva sekitar awal tiga puluhan tapi bagaimana
bisa jika dia sudah mengajar disini cukup lama maka seharusnya dia berusia
delapan puluhan. “Dan kotak ini berisi peralatan seperti seragammu,
buku-bukumu, dan kunci kamarmu.”
Aku menerimanya. “Terimakasih.”
Ada ketukan di pintu, aku berbalik
melihat gadis berambut hitam sebahu dengan tubuh cukup kurus dan agak lebih
pendek dariku. “Mrs.Cleva, anda memanggilku.”
“Benar, Miss.Jenisa. ini adalah
Miss.Livy murid pindahan baru yang akan menjadi teman sekamarmu jadi kau akan
membimbingnya mengerti?”
Jenisa mendekatiku dan mengulurkan
tangan. “Jenisa Halig. Senang berkenalan denganmu Livy.”
Jenisa membawaku ke lantai tiga yang
berkamar-kamar dan tertulis nama disetiap kamar yang dihuni. Kamarku dan Jenisa
terletak di paling barat. Namaku sudah tertulis dan pintunya terbuka. di dalam
aku lihat Lufian dan Harry sudah berdiri menyambutku.
“Aku sudah menata tempat tidurmu
sedemikian rupa. Jika kau tida suka warna kasurnya kau bisa menggantinya.” Kata
Lufian.
Warna kasurku adalah kuning dengan
bertaburan gambar love. Sungguh aku memang tidak suka. “Yah, Terimakasih
Lufian, Harry.”
“Baiklah selamat beristirahat.” Lufian
dan Harry pergi.
Kamar ini cukup sempit berbeda dengan
kamarku. Hanya ada dua kasur yang ditengah-tengah diletakkan meja laci panjang
dengan satu lampu belajar. Lalu dua lemari dan satu kaca juga satu jendela.
“Kau perlu bantuanku jika ingin
mengatur ulang susunan barangmu?” Tawar Jenisa.
Aku menggeleng. “Kurasa ini cukup baik
meski aku tidak bisa membayangkan seperti apa wajah mereka saat menata celana
dalamku.” Ujarku berdengus.
Jenisa tersenyum. “Itu memang salah
satu sopan satun Devisi penjaga yang tidak kusukai, tapi untuk menghias
tempatmu kupikir aku bisa membantu.” Dia menunjuk ke lantai paling pojok.
Disana ada bonekaku, foto keluargaku, foto temanku, foto kucingku, lampu
belajar kecilku yang menggunakan baterai berbentuk doraemon biru, perlengkapan
kosmetiku, dan novelku. “Aku yakin mereka bingung meletakkannya dimana.”
“Mereka lebih bingung meletakkan
benda-benda itu dibanding pakaian dalamku.” Gumamku dan membuat Jenisa tertawa.
Jenisa
menaruh bingkai-bingkai foto itu pada meja kosong yang sepertinya memang
disiapkan untukku mengisinya. “Kau mempunyai rambut dan mata yang indah ya
sedari kecil,” Katanya mengamati foto keluargaku yang diambil saat aku masih
sekolah Sd.
Aku
memang memiliki rambut pirang keemasan yang panjang sepinggang dan lurus
berkilau seperti selalu keluar dari Salon. Teman-temanku menyebutnya seperti
rambut boneka barbie. Sedangkan mataku dari keturunan Nenekku di paris yang
berwarna biru cerah. Meski begitu aku tidak memiliki tubuh berbentuk meski
tubuhku kurus dan tidak gendut dan warna kulitku putih pucat dan jika terkena
sinar matahari terlalu lama akan menjadi merah berbintik.
“Tapi
kau memiliki warna kulit yang bagus,” Pujiku dengan jujur. “Putih seperti
salju.”
“Itu
mungkin karena aku tinggal di desa yang dekat gunung es dan kerjaan
sehari-hariku membantu mengumpulkan es batu untuk dijual,” Kata Jenisa
lembut.Kini Jenisa menatap bingkai foto yang berisi aku dengan enam temanku dan
disebelahnya masih ada foto aku dengan teman sekelasku. “Kau memiliki banyak
teman.”
“Aku
memiliki banyak teman tapi aku hanya memiliki enam teman solib, aku rindu
mereka.” Kataku merenung. Aku ingat saat mengatakan pada teman-temanku jika aku
akan pindah sekolah mereka segera menatapku seolah aku gila dan kami menangis
bersama. Dua hari kemudian sebelum aku pergi mereka membuatkan album foto-foto
kebersamaanku dengan mereka juga sebuah buku diary. Mereka berharap aku selalu
menelepon dan mengirim e-mail. “Bagaimana denganmu?” Tanyaku penasaran karena
di meja Jenisa sama sekali tidak ada satu tanda dia dengan orang tuanya atau
siapapun, mungkin dia menyimpannya.
“Aku...”
Jenisa agak ragu. “Hei, aku lupa jika kita harus menghadiri makan malam. mereka
pasti sudah menunggu,” Jenisa berpikir sebentar. “Atau meninggal.”
Aku
segera bersiap-siap dengan memakai seragam pertama kali di sekolah ini. Seragam
itu berupa Blazer hitam dengan dasi hitam dan rok hitam selutut, padaku rok itu
melebihi beberapa centi dari lututku. Akukan memang tidak terlalu tinggi. Aku
mengikat rambutku keatas dan segera berjalan keluar dari kamar bersama Jenisa.
“Itu
alasan semuah kelihatan sepi ya?” Kataku.
“Ya.
Semuah orang saat ini sedang makan malam, biasanya mereka saling menunggu guru
datang terlebih dahulu kemudian makan. Kurasa kita akan tiba pada bagian
penutup.”
Seperti
kata Jenisa kami tiba saat suara detingan piring,sendok, garpu dan semuah yang
ada diatas meja memenuhi ruangan ini. Beberapa dari mereka berhenti hanya untuk
melihat aku dan Jenisa masuk dan beberapa tetap cuek dan sibuk pada makanan di
mejanya. Ruang makan ini sangat besar dengan lima meja panjang tiap barisan dan
itupun tiap meja diisi oleh lebih dari dua puluh orang. mereka semuah memiliki
warna kulit bercampur-campur yang menandakan ada lebih dari lima negara di
ruangan ini sedangkan meja khusus guru kulihat terletak di depan. Mrs.Cleva
mengangguk padaku.
Aku
dan Jenisa memilih duduk di meja paling ujung karena memang itu yang tersisa.
“Duduklah disini, aku akan mengambilkanmu baki makanan.” Kata Jenisa
meninggalkanku.
Jenisa
berputar ke depan pada tumpukan makanan yang sudah disajikan. Aku lupa bilang
padanya jika aku memiliki porsi makan sedikit karena takut gendut. Dulu berat
badanku naik lima kg dan aku berhasil menurunkannya jadi aku takut beratku naik
lagi.
“Hei,
siapa namamu?” Tanya laki-laki di meja belakangku.
Aku
membalikkan tubuh. Dia laki-laki berkulit hitam dari afrika. “Livy.” Jawabku
singkat dari benakku aku sudah langsung menduga pria seperti apa dia.
“Kau
kelihatan cantik, kau pasti siswi baru. Namaku Jones,” Dia membalik kursinya
menghadapku. “Jika kau butuh teman kencan maka kau bisa memanggilku dari kelas
E untuk jadi...”
“Hentikan
itu,” Protes suara wanita dari meja barisanku. Dia duduk di sebelahku setelah
dua orang disebelahku. “Kau tidak bisa merayu siswi baru lagi untuk kau bodohi.
Kau ingin ku bekukan ya?” Kata wanita itu.
Jones
bergidik. “Ah, sudahlah.” Dia kembali keposisi semulanya.
“Dia
memang suka begitu,” Kata wanita itu lagi. kali ini aku melihat dengan takjub
pada wanita itu. Dia bagaikan sesosok figur dalam lukisan karena sosoknya
teramat cantik.
Dia
memiliki wajah oval yang proposional. Rambut coklatnya tergerai panjang dan
cahaya lampu neon membuat rambut itu seolah bergelombang indah seperti catokan
rambut terbaik. Warna kulitnya putih dan tubuhnya meski dia duduk aku yakin
pasti ramping seperti yang selalu membuatku iri.
“Namaku
Cecilia,” Katanya. “Dan ini kedua temanku, Hilda dan Ilisia.” Angguknya dengan
anggun pada perempuan sebelah kirinya yang berambut hitam ikal mengembang
dengan kulit coklat dan gadis berambut pirang pendek dengan poni yang berwajah
agak kotak.
“Namaku
Livy.”
“Aku
sudah dengar barusan kau mengatakan namamu,” Kata Si rambut hitam Hilda. “Kau
murid pindahan dari mana?”
“Amerika.”
Kataku.
Dari
sudut pandangku aku melihat Jenisa tengah membawa dua baki makanan. Ada dua
wanita juga memperhatikan Jenisa dan mereka berdua saling terkikik dengan mata
licik, salah satunya yang memiliki wajah bulat menjulurkan kakinya, sebelum aku
sadar apa yang akan dia lakukan Jenisa segera jatuh tersandung kaki itu. aku
segera berdiri bersamaan saat Cecilia menayakan seperti apa bakat yang
kumiliki.
“Jenisa!”
Aku buru-buru berlari menghampirinya. Aku menunduk untuk menolong Jenisa dan
melihat jika seragamnya telah kotor oleh makanan berbumbu saus.
“Astaga
kau seharusnya lebih berhati-hati saat melangkah Jen.” Kata wanita yang telah
membuat Jenisa terjatuh. Dia masih tertawa riang bersama temannya.
Aku
berdiri tegak di depannya, mataku melotot tajam. “Kau pikir itu lucu!” Bentakku
keras hingga seluruh ruangan ini hening menyisakan suaraku dan suara wanita
itu.
“Livy,”
Panggil Jenisa lemah. “Tak apa aku baik-baik saja.”
“Bagiku
itu memang lucu menyaksikannya seperti itu.” Ucap wanita itu yang membuatku
ingin sekali menyiramnya dengan soup yang ada di mejanya.
Aku
hendak memakinya tapi Mrs.Cleva sudah memotong pedebatan kami dengan suara
datar tapi tegas. “Tolong tenanglah,” Katanya. “Untukmu Miss.Regina,”
tatapannya terkunci pada wanita itu yang ternyata bernama Regina. “Kau akan ke
ruanganku dan menerima hukuman.”
“Kenapa
aku harus dihukum!” Seru Regina marah. “Aku hanya membuatnya jatuh sedangkan
dia sudah membuat teman kami meninggal!”
Kata
terakhir Regina membuat Jenisa menunduk goyah. Aku tak mengerti tapi tampaknya
semuah mata di ruangan ini sebagian hampir membanjiri Jenisa dengan tatapan
dingin yang tajam. Jenisa bangun dengan meraih tanganku dan segera berlari
keluar dari ruang makan.
Aku
mengejab tidak mengerti dan mengikutinya keluar ruang makan tapi aku bahkan
hampir tidak percaya saat menyadari Jenisa bisa berlari dengan kencang atau
karena memang menjadi kelemahanku sejak dulu dalam masalah Lari. Aku
asal-asalan membelok, masuk, dan akhirnya mau tidak mau mengakui jika aku
tersesat. Aku kagum pada sekolah ini tapi sekarang aku mengutuk jika hari
pertamaku disekolahan ini dimulai dengan aku tersesat pada sebuah ruangan
hingga rambutku memutih.
Ruangan
tempat ini gelap dan hanya tangga terus keatas yang tiap dindingnya disinari
lilin satu-satunya cahaya. Tanpa memikirkan ide pintar lain aku memutuskan
terus naik ke tangga dengan harapan bertemu seseorang yang bisa memanduku ke
kamar.
Terus
naik, terus naik tanpa ada lagi ruangan. Aku bahkan tidak heran jika misalnya
ini sebuah tangga yang sudah dinomori lantai maka aku mungkin sudah naik hingga
lantai lima. Tangga ini panjang dan cukup sempit hingga tiap kali aku bernapas
aku akan mendengar suara napasku kembali yang terpantul. Saat kakiku sudah
pegal aku mulai mendengar suara samar-samar lagu merdu...sebuah piano yang
dimainkan di ujung tangga ini.
Aku
akhirnya benar-benar menemukan pintu berwarna putih dengan gambar malaikat
bersayap hitam yang terpotong sayapnya. Aku membuka sedikit tapi pintu itu
sudah mengeluarkan suara berlebihan.
“Siapa?”
Tanya suara dibalik ruangan itu.
Aku
mengintip melihat sesosok laki-laki dengan pakaian putih yang berhenti
memainkan pianonya. Dia pasti tidak bisa melihatku karena aku berada di
kegelapan. Awalnya aku hanya melihat punggunya tapi lama kelamaan aku seperti
familiar pada sosok itu. Berambut pirang. Warna kulit seputih kristal dengan
wajah itu.
Aku
segera terpekik kaget dan membuka pintu keras hingga terbanting ke dinding.
Akhirnya dia bisa melihatku, matanya benar seperti yang kuingat berwarna biru
cerah. Suaranya juga sama saat dia berseru, “Demi tuhan.”
“Bukan
hanya manusia.” Kataku.
Dia
menatapku tidak percaya. “Bagaimana kau bisa berada disini?” Tanyanya.
“Ada
dua jawaban untuk itu,” Kataku. “Aku disekolah ini karena aku dikirim kemari
dan aku disini karena aku tersesat, tapi jika pertanyaanmu kenapa aku bisa
berada di dunia ini maka__ karena aku hidup disini.”
Pria
itu menyeringai. “Kau tersesat karena apa? Seharusnya Mrs.Cleva memberikanmu
peringatan tentang tidak boleh meninggalkan buku pemandu selama kau belum
benar-benar mengenal detail tempat ini,Lovy.”
“Namaku
Livy.” Koreksiku.
“Lovy
jauh lebih baik diucapkan dibandingkan Livy menurutku, atau kau mau kupanggil
Airis atau Khesya?”
Kini
aku menyipitkan mataku. “Bagaimana kau tahu namaku?”
“Aku
tahu semuah hal di sekolah ini termasuk kau yang baru datang dari desa kebun
buahmu kemari.” Dia berbicara dengan aksen tenang.
“Kau...”
Aku bercetus lalu berhenti. “Apa kita pernah bertemu?” pertanyaan langsung yang
tepat.
Pria
itu kembali terseyum. “Menurutmu apakah kita memang pernah bertemu?”
“Ya.”
Jawabku mantap. “Aku melihatmu saat aku tidak sadar, kau yang menarikku, kau
yang bilang akan memberikan aku kehidupan kedua, kau juga..... tunggu dulu.
Apakah kau Chiton?”
“Untuk
yang itu kenapa kau tidak berusaha mencari tahunya untuk menambah-nambah
pengetahunmu di tempat ini? Aku yakin kau pasti menemukannya. Anggap saja PR
untukmu.” Dia kembali memainkan pianonya dengan jari ramping yang indah dan
meluncur dengan ringan dan anggun. Kali ini dia memainkan musik yang
menenangkan dan membuat perasaan ketakutan menjadi kelegaan.
“Baiklah
kalau begitu, tapi apakah kau bisa membantuku kembali ke kamar dengan selamat
tanpa harus tersungkur ke ruangan bawah tanah atau ke kandang tikus?”
Pria
itu tertawa lembut. “Baiklah Lovy,” Dia berhenti memainkan pianonya lagi dan
menatapku. “Kau hanya tinggal keluar lagi dari pintu masukmu dan kau akan
kembali ke kamarmu.”
“Kau
serius?” Tanyaku tidak percaya.
“Aku
serius, dan kau harus mulai terbiasa dengan segala sesuatu yang tidak serius
karena ketidak seriusan akan menjadi kenyataan di tempat ini,” Dia memiringkan
kepalanya membuat rambut pirang lembut itu jatuh menutup mata emasnya tapi
karena rambut itu hampir transparan sehingga aku masih bisa melihat matanya.
“Dan cobalah untuk percaya pada kekuatan yang kau miliki.”
Itu
benar. segalanya di sekolah ini bukanlah sebuah kewajaran tapi di tempat ini
semuah yang tidak wajar memang terjadi.
“Baiklah.”
Kataku membuka pintu yang sebelumnya kututup.
Aku
mengejab kaget sekaligus terkejut melihat aku baru saja membuka pintu kamarku
sendiri. Jenisa tengah berada di tengah-tengah kasurnya membuntal dirinya
dengan selimut tebal birunya. Aku sungguh tidak percaya, aku menengok ke
belakang tapi di belakangnya hanya ada kamar-kamar seperti sebelumnya. Aku baru
sadar jika di depan kamarku dan kamar Jenisa adalah kamar milik Cecilia dan
Ilsia. Bagaimana pria itu melakukan sebuah sihir seperti ini?
“Jenisa?”
Panggilku.
“Kau
sudah mendengarnyakan?” Kata Jenisa murung. Dia menundukkan kepalanya diantara
kedua lututnya.
“Aku
tidak mendengarkan apapun.” Kataku.
“Begitu
ya.”
“Jenisa
apakah kau baik?” Tanyaku tapi terdengar bodoh tentu saja dia tidak baik. Tapi
Jenisa tetap menganggukkan kepalanya meski tetap tidka mengangkat kepalanya.
Baiklah ini awal pertemananku dengan Jenisa jadi tidak mungkin aku membuat
perkenalan pertama menjadi sesuatu yang buruk, sebaiknya cepat ubah topik
pembicaraan. “Emm, Jenisa kau tahu sesuatu tentang Chiton?”
Jenisa
akhirnya sedikit mengangkat kepalanya. “Tentu, merekalah yang membuat kita
begini, yang memberikan kehidupan kedua dan bakat pada kita maksudku.”
“Kau
pernah bertemu dengan Chitonmu?”
“Iya,
pertama kali saat aku bangun dari komaku dialah yang menyambutku dan menjelaskan
segalanya padaku lalu yang kedua aku bertemu dengannya di kastil paling atas
sekolah ini...”
“Berarti
aku juga!” Tukasku membuat Jenisa akhrinya mendongakkan kepala menatapku. “Tadi
saat aku tersesat aku terus menaiki tangga hingga paling ujung lalu bertemu
dengannya.”
“Begitukah,”
Jenisa mulai tertarik. “Tangga yang kau naiki pasti tangga Golden. Tangga emas
penghubung untuk bertemu dengan Chitonmu jika kau mau. Semuah orang sering
menaiki itu untuk bertemu Chitonnya masing-masing. Kebanyakan sebagai
pembincangan mengenai kekuatan bakatmu atau hal lainnya. Jika kau sudah masuk
kelas pengendalian bakat maka kau akan selalu diminta untuk menemui Chitonmu
agar bisa mengasah sekaligus mengendalikan kekuatanmu.”
“Begitu
ya.” Jadi itu pertanda aku akan sering bertemu dia. “Seperti apa Chitonmu?”
Jenisa
sekarang sepenuhnya tidak murung lagi, ini pasti topik yang membuatnya
mengangkat kedukaannya. “Namanya Rere, dia hampir seperti anak kecil meski
Chiton memiliki usia lebih dari seratus tahun. Tingginya hanya sebahuku. Dia
cerewet dan suka warna pink sehingga dia mengecat rambutnya pink dan gaunnya
juga berwarna pink. Bagaimana denganmu,Seperti apa dia?”
“Dia
seorang laki-laki yang namanya belum kutanyai. Rambutnya pirang agak pucat dan sepertinya itu asli dengan mata emas dan
dia.....sangat tampan. Seperti malaikat sungguhan.” Kataku.
“Kelihatannya
dia sangat menakjubkan. Tapi tentu saja dia seperti malaikat, kau lupa Chiton
keturunan dari hasil malaikat langsung.”Kata Jenisa tertawa. Akhirnya dia
tertawa. “Tapi jangan katakan kau naksir pada Chitonmu sendiri.” Selidiknya
yang membuatku terdiam.
“Aku
tidak!” Elakku.
“Oh,
wajahmu memerah,” Ledek Jenisa kemudian mendadak lampu dimatikan. Aku menjerit
refrek. Kegelapan adalah probiaku sedari kecil. “Ini biasa dilakukan setiap
menjelang waktu agar semuah orang tidur dan tidak berkeliaran.”
“Tapi
aku belum cuci wajah dan sikat gigi, ” Rengekku kemudian perutku ikut merengek
menyedihkan. “Dan aku juga lupa bilang belum makan sedari perjalanan ke sekolah
ini.”
“Dan
kau tadi juga tidak makan,” Ada kilat kesedihan Jenisa yang sepertinya ingat
kejadian yang tadi. “Hei, bagaimana jika kita ke dapur untuk mengambil
makanan.” Ajaknya dengan kilatan ceria yang dipaksakan.
“Memangnya
boleh?” Kataku hati-hati tapi saat itupun aku sudah mengambil lampu kecil
doraemonku.
“Lampu
memang dimatikan tapi kita tetap boleh berkeliaran asal tidak menimbulkan
keributan dan dapur dibuka dua puluh empat jam dan makanan selalu tertata rapi
di setiap lemari pendingin.”
“Oke,
ayo.” Aku sudah berjalan cepat ke pintu dengan semangat. Membuka pintu
hati-hati agar tidak terdengar kecuali jika ada murid di tempat ini yang
memiliki bakat pendengaran tajam.
Jenisa
dan aku benar-benar memerankan contoh pencuri profesional yang mengendap-ngendap.
Saat hampir menuruni tangga aku hampir terpekik kaget saat melihat cahaya
berjalan menyerupai orang.
“Itu
Dixie dengan bakat cahaya yang keluar dari tubuhnya saat gelap. Dia terbiasa
berjalan sambil tidur sebelum kembali lagi ke kamarnya, kebiasaannya itu sudah
tidak tertolong lagi jadi para guru membiarkannya saja.” Jelas Jenisa.
“Wah,
dia akan berguna dalam tema menghemat lampu.” Komentarku.
“Atau
seseorang yang berguna menjadi lampu diskotik hemat uang asalkan dia tidur
sambil berputar-putar dengan irama musik klasik.” Balas Jenisa. “Baiklah ayo,
dapur di sebelah sana.”
Aku
dan Jenisa memasuki dapur ke sebuah ruang es tempat penyimpanan makanan.
Tentunya di sini dingin sampai Jenisa memeluk dirinya sendiri. “Daging sosis,
daging ayam, daging ikan, daging sapi atau makanan kaleng saja?” Tanya Jenisa
padaku.
“Apapun
itu asalkan tidak menggigit balik saat digigit.” Kataku mengambil roti dan
sosis.
“Itu
disebut menggigit hewan hidup siap makan sebulu-bulunya. Tapi tak ada makanan
seperti itu disini, semuahnya cukup higenis karena juru masak tempat ini
Mrs.Lucinda sangat teliti dan akan marah jika seorang murid merengek tidak ikut
pelajaran olahraga karena alasan masakannya.”
“Sayang
sekali padahal aku ingin memasukkannya dalam kategori membuat alasan membolos.”
Kecewaku.
Jenisa
tertawa. “Sayang sekali karena disini hampir semuah alasan tidak bsia
dikeluarkan karena jika kau terluka sudah ada perawat yang memiliki bakat
langsung menyembuhkan, jika kau sedih disini ada Mr.Tombi yang kekocakkan konyolnya
membuatmu tertawa bergulinh-guling. Tapi jika kau sakit hati...” Jenisa
mengangkat bahunya sambil membuka kaleng susu. “Maka jangan melihat Cecilia.”
“Kenapa?”
Tanyaku dengan mulut penuh sosis yang tengah dikunyah.
“Karena
kau akan sakit hati melihat kau tidak semulus dia, tidak seramping perutnya
yang hanya setelapak tangan laki-laki, tidak sejenjang kakinya, suaranya tidak
semerdu dia, cara berjalan tidak seanggun dia...dan pokoknya banyak sekali yang
tak ingin kau bandingkan antara dirimu dan Cecilia.”
Aku
ingat Cecilia dan semuah detail yang diceritakan Jenisa tentang Cecilia jika
dicermati memang sangat benar. aku bahkan takut membandingkan aku dan dia. “Aku
sudah melihatnya dan kau benar. Apakah dia madonnanya di sekolah ini?”
“Sungguh
sangat jelas bahkan hampir setiap harinya aku melihat lokernya penuh
surat-surat dari cowok, dan setiap kali dia berjalan maka semuah mata akan
melirik.” Kata Jenisa memberikan contoh gambaran ekspresi cowok yang melihat
Cecilia yaitu dengan dia membuka mulutnya lebar-lebar dengan mata lebar hingga
seolah akan keluar juga dan hidung yang kembang kempis.
Aku
menekan hidung Jenisa pelan dengan kaleng manisan chery.“Aku pikir hidungnya
tidak sampai begitu.”
“Ha
ha, inikan disebut hidung babi.”
Komentar
Posting Komentar