Banyak Orang yang sudah tahu bahwa hal terpenting yang kita cari dari makanan selain mengenyangkan tapi juga mengandung gizi, karena gizi adalah zat makanan pokok yang diperlukan bagi pertumbuhan dan kesehatan badan. Ketika kita menyebut makanan bergizi, itu berarti makanan yang kita makan mengandung gizi.
Jika gizi kita tidak baik, maka daya tahan tubuh kita akan menurun. Kita menjadi lebih rentan terkena penyakit. Ditambah dengan perkembangan fisik dan mental kita terganggu serta kemampuan beraktivitas akan menurun.
Jadi dengan kata lain, jika kita bergizi baik maka tubuh kita akan sehat dan tidak mudah terkena penyakit. Tapi sebagian orang menyakini bahwa makanan yang mengandung gizi biasanya makanan yang mahal atau sulit didapat oleh orang-orang tertentu.
Nah, dalam mengatasi kecemasan tersebut Hayu Dyah Patria asal Sidoarjo Jawa Timur telah berhasil memanfaatkan tanaman liar untuk memenuhi gizi masyarakat. Ia juga mendirikan Yayasan Mantasa.
Ide tanaman liar itu didapatkannya pada tahun 2004. Saat Hayu masih menjadi mahasiswi Universitas Widya Mandala Surabaya yang dimana dia tengah membuat penelitian tentang kandungan gizi mangrove. Kemudian tahun 2009 lalu, Dyah memberdayakan ibu-ibu rumah tangga di Desa Galengdowo Jombang agar mulai memanfaatkan tanaman liar sebagai bahan makanan seperti Daun kastuba, misalnya, berlimpah kandungan mineral. Lalu, daun krokot, makanan kesukaan jengkerik, ternyata kaya berbagai macam vitamin dan, ini yang terpenting, senyawa pendongkrak kecerdasan. “Daun krokot banyak mengandung asam lemak omega-3 untuk perkembangan sel otak anak,” katanya.
Sesungguhnya keterampilan ini tak cuma berguna untuk warga Galengdowo. Data Riset Kesehatan Dasar 2010 mengungkapkan, angka kekurangan gizi di Indonesia masih tinggi, yakni 17,9%. Penyebab utamanya adalah kemiskinan. Karena itu, makanan asal tanaman liar sangat masuk akal untuk dimasyarakatkan. “Tanaman ini bisa didapat tanpa uang. Tinggal petik, tapi kandungan gizinya tak kalah dari tanaman budidaya,” kata Hayu dalam podcast wawancara Radio idola Semarang.
Sekarang, Hayu sudah berhasil mengidentifikasikan sekitar 300 spesies tanaman liar. Hayu juga menarik minat kalangan akademis dan peneliti untuk menemukan kandungan nutrisi tanaman pangan liar dan berhasil meneliti 10 tanaman pangan liar secara mendalam.
Hal ini membuat masyarakat desa mulai mengkonsumsi lebih banyak tanaman pangan liar dibanding makanan olahan dan terbiasa memelihara tanaman liar. Keberhasilan Hayu ini membuat Desa Galengdowo memberikan presentasi di luar negeri mengenai apa yang telah mereka lakukan untuk mengatasi gizi buruk.
Atas dedikasi di bidang pemuliaan tanaman liar untuk menunjang gizi masyarakat dan kerja dokumentasinya pada alternatif pangan lokal, Hayu mendapat penghargaan SATU Indonesia Awards tahun 2011 di bidang Pemberdaya Gizi dari Tanaman Liar.
Komentar
Posting Komentar